Beliau adalah Mamaku

36,5 thn yang lalu beliau melahirkan aku, anaknya yg paling cantik ini  ;-) .
Kemudian beliau yang mengajarkan kami semua bagaimana menjalani hidup yang penuh kerikil.
Yang selalu memperlihatkan bahwa jalan hidup yang terjal dan berliku bukan untuk dihindari.
Bahwa jalan terjal dan berliku itu suka tidak suka harus dilewati.

Mamaku yang cerita perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa bertanggung jawab terhadap satu keputusan adalah satu konsekuensi hidup.
Tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk mengambil keputusan apapun agar sesuai keinginannya.
“Mama hanya kasih tau buat bahan pertimbangan, terserah kamu mau pilih yang mana”
Itu yang selalu diucapkan kala kami anak2nya bingung harus ambil satu keputusan.
Tapi justru dengan begitu kami jadi hati2 setiap memutuskan sesuatu.

Mamaku yang tidak pernah ikut campur cara mengasuh anak-anak kami, cucu-cucunya.
“Cara mama ngasuh kalian itu udah puluhan taun yang lalu, sekarang itu lain, banyak yang berubah. Contohnya, dulu bayi pake gurita, sekarang dokter nganjurin ga usah. Kalian yang lebih tau, Mama kan udah lama ngga ngikutin perkembangannya jadi takut salah”

Mamaku yang tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya kecuali diminta atau terpaksa karena melihat ada yang tidak benar persis di depan matanya.
Yang sangat menghargai bahwa rumah tangga anaknya bukan rumah tangganya.
Yang sangat mengerti bahwa aturan rumah tangga anaknya sangat mungkin berbeda dengan aturan rumah tangganya.

Mamaku yang saat anaknya ini gundah dan putus asa karena ga bisa kasih ASI untuk cucunya, berkomentar : “Ya sudah, yang penting sudah usaha, berdoa aja ada rejekinya buat beli susu formula. ASI atau susu formula anak tetep tau koq siapa ibunya“  *meleleh-red*

Mamaku yang selalu mencontohkan bahwa asisten rumah tangga itu juga manusia, pantang dibeda-bedakan.
“Disini, selama ga dibilang jangan dimakan karena pesanan anak-anak, boleh dimakan” itu yang selalu Mama bilang kalau ada asisten baru.
“Bibi disini hanya bantu kita, jadi apa yang bisa dikerjain sendiri ga usah minta bibi yang kerjain” itu yang selalu Mama bilang waktu itu pada kami, anak-anaknya.

Iya, beliau adalah Mamaku
Yang masih bermotor ria menuju kantornya … (rock)
Yang sebulan sekali berkunjung dengan bis dari bandung ke bogor karena kangen cucu-cucunya. (worship)
Yang sudah bisa googling untuk cari resep kue kering baru untuk lebaran. (woot)
Yang di usianya menjelang 62 thn sudah bisa komentar :  “Aduh, lelet nih koneksinya, padahal Mama mau buka youtube liat cara pake kerudung yang waktu itu dikasih tau Kakak Ei” . (funkydance)

Ya Alloh…
Berikan Mama kesehatan yang sempurna …
Ijinkan kami membahagikannya di umurnya yang tersisa…
Amin ya Rabb…

*Maafin ei kemarin ke Bandung tapi ga bisa mampir ya Ma * (cozy)

Ternyata, stress penyebabnya…

Udah beberapa lama, bagian dari badan ei gatel2. Menderita? pastilah ya, gatel2 itu ga ada yang ga menderita. Digaruk ya bikin iritasi, ga digaruk whew … fantastis rasanya.
Konsultasi sama dokter kulit, dikasih salep, ga sembuh.

Udah sekitar 4 periode siklus bulanan berasa ga normal, konsultasi ke DSOG.
Dokter :”Mestinya sih ga ada hubungannya sama hormon ya bu, tapi kita coba dulu terapi hormon supaya siklusnya teratur. Kemungkinan lain ibu stress atau kecapean”.
Dengan sigap ei sanggah : “Stress kenapa ya Dok. Kondisi rumah alhamdulillah saya baru dikaruniai anak laki2 which is 2 sebelumnya perempuan. Beberapa rencana keluarga yang tertunda terus, insha Alloh dalam waktu dekat terlaksana. Kondisi kerjaan kantor sejak punya tambahan team sudah mulai bisa ‘bernafas’ leluasa. Jadi harusnya sih ga ada penyebab stress nya
Dokter : “Oh kalo gitu kemungkinan kecapean bu, ya mungkin karena umur juga
Yang terakhir ga ei sanggah karena yaaaa nyadar lah ya ;-) .

Konsultasi kedua iseng2 ngadu juga tentang gatel2 itu. Siapa tau berhubungan dengan hormon karena si gatel2 ini dimulai 4 bulan setelah lahiran Keenan.
Setelah tanya jawab keluhan gatelnya, kondisi, gejala, dll, dengan keyakinan 1000% si dokter langsung vonis ei : “Ini udah pasti ibu stress”. Hmmm, ei senyum aja, ga brani nyanggah :-P

Selesai konsultasi baru deh mikir. Weh, masa iya ei stress? Perasaan sih segala sesuatu dijalanin dengan dibiarin ngalir. Yang mana yang bikin stress ya? Perasaan ga ada yang dipikirin sampe stress.

Ah, lagi2 denying. Susah banget ngakuin bahwa ada yang tidak baik2 aja. Pasti ada kondisi yang ternyata ga bisa ei terima dengan ikhlas.
Hmmm.. ikhlas…iya ikhlas …  betapa susah dirimu kuraih …

*gambar pinjem dari sini*

Bahagia itu sederhana (1)

Yup…buat ei, bahagia itu sesederhana melihat kejadian ini…
Alhamdulillah … :-)